Wednesday, 5 May 2010

NOVEL BERLATAR SEJARAH

Judul: Republik Jungkir Balik, Sebuah Novel Berlatar Belakang Perang Kemerdekaan. Penulis: Suparto Brata, Penerbit: Narasi 2010, tebal: 392 halaman.
Republik Jungkir Balik merupakan novel dengan bingkai sejarah tahun 1947. Novel itu menceritakan situasi di Kota Probolinggo, umumnya Indonesia, dan perjuangan rakyatnya pada saat menghadapi perang melawan penjajah Belanda. Dikisahkan pada tahun 1945 di Surabaya, diperkirakan lebih dari seratus ribu penduduk terpaksa mengungsi ke luar kota hanya dengan pakaian yang melekat di tubuh karena panik. Kesengsaraan yang diderita para pengungsi tersebut berlanjut selama berbulan-bulan sebelum mereka berani kembali ke kota yang telah hancur.
Keluarga Kartidjo merupakan salah satu dari pengungsi tersebut. Di tempat pengungsian itu, mereka kenal dengan keluarga Saputra, seorang tukang catut yang mengawini mantan pelacur dari Kampung Tetes bernama Sumini. Kesulitan hidup menbuat kedua keluarga ini masuk dalam konflik kehidupan yang pelik. Senasib sepenanggungan, mereka berjuang mempertahankan hidup.
Dalam novel ini dikisahkan pula pergolakan antara nilai nurani dan kemanusiaan, yang menyuguhkan cerita pembunuhan, pelacuran, dan lainnya, sebagai dampak dari peperangan. Juga banyak melibatkan tokoh yang berasal dari berbagai etnis, seperti Madura, Jawa, dan Tionghoa. Bagaimana kisah Kartidjo selanjutnya dalam menjalankan hidupnya? Kisah fiktif yang dibebani data dan fakta sejarah. (Nia K. Suryanegara, Pusat Data Redaksi).
Dikutip dari PIKIRAN RAKYAT Sabtu, 24 April 2010. Selanjutnya.....

Sunday, 4 April 2010

KSJ Tidak Menandingi KBJ

Tulisan ini akan lebih bersifat klarifikasi dalam konteks pertentangan yang dikesankan antara Kongres Sastra Jawa (KSJ) dan Kongres Bahasa Jawa (KSJ) sekaligus menggarisbawahi salah satu usul Kepala Balai Bahasa Jogjakarta Tirto Suwondo dalam tulisannya bertajuk Kongres Bahasa Jawa V (Jawa Pos, Minggu, 21 Maret 2010).

Pada butir ke-3 usulnya, Tirto antara lain menulis, ''Di satu sisi, KSJ memang dinilai positif. Tetapi, pengalaman Semarang menunjukkan ada kesan KSJ diselenggarakan hanya untuk 'tandingan' KBJ.''

Sebagai salah seorang penggagas KSJ, saya tidak sedang membantah bahwa KSJ terkesan untuk menandingi KBJ. KBJ kali pertama digelar di Semarang pada 1991 era Gubernur Ismail. Kegiatan lima tahunan itu merupakan proyek pemerintah yang didukung tiga daerah: Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur.

Pada awalnya, KBJ memang disambut sebagai kabar baik, terutama oleh mereka yang menginginkan agar bahasa Jawa mendapatkan iklim yang lebih baik untuk tetap berada dan bahkan berkembang di tengah-tengah masyarakatnya. Tetapi, terutama sejak KBJ II (Batu, 1996), beberapa pengarang mulai menunjukkan sikap ketidakpuasan mereka terhadap penyelenggaraan KBJ.

Esmiet, misalnya, melihat bahwa banyak sastrawan Jawa yang seharusnya mendapatkan undangan, tetapi ternyata tidak tampak di arena kongres. Saya masih ingat, salah seorang penyair Jawa yang jadi ''contoh kasus'' saat itu adalah Budi Palopo. Ada dua versi mengenai ketidakhadiran Budi Palopo. Versi pertama mengatakan, panitia memang tidak mengundangnya dan versi kedua mengatakan bahwa undangannya diserobot dan dimanfaatkan orang lain.

Ada juga rasan-rasan mengenai dominasi kaum akademisi sehingga kongres terkesan sebagai seminar akbar bin mewah. Saya masih ingat, betapa ketika acara kongres sedang berlangsung, beberapa tokoh malah seolah membuat forum tandingan di dalam sebuah kamar. Bahkan, J.S. Sarmo yang datang dari Suriname sebagai wong Jawa sekaligus akademisi pun memilih meninggalkan acara resmi pada salah satu sesi itu untuk ngobrol bersama Suparto Brata, Esmiet, Tamsir A.S., Bambang Sadono S.Y., D. Zawawi Imron, dan Hasan Senthot.

Dari rasan-rasan para tokoh itulah, kemudian berkembang pikiran-pikiran kritis terhadap KBJ yang salah satu di antaranya menemukan bentuknya pada KSJ. Kehadiran tokoh-tokoh, seperti Suparto Brata, N. Sakdani Darmo Pamoedjo, Arswendo Atmowiloto, dan bahkan W.S. Rendra, ketika itu memberikan bobot tersendiri pada KSJ I yang diadakan di Taman Budaya Surakarta pada 6-7 Juli 2001.

Pada KBJ III di Hotel Ambarukma, Jogjakarta, beberapa panitia dan peserta KSJ I baru mendapatkan undangan beberapa hari sebelum pelaksanaan. Itu pun hanya melalui telepon. Itulah salah satu bentuk reaksi yang tampak dari panitia KBJ terhadap adanya KSJ. Sementara itu, polemik di media cetak terus bergulir dan semakin ramai menjelang KSJ II dan KBJ IV di Semarang pada September 2006.

Masih dalam paragraf yang sama, Tirto menyatakan, ''Terlepas benar atau tidak (maksudnya, KSJ asal menandingi KBJ, Bon), hal itu menjadi suatu keniscayaan karena saat itu mereka (para pengarang dan pencinta sastra Jawa) merasa 'tidak diakomodasi' oleh KBJ.'' Kemudian, Tirto menutup paragrafnya dengan harapan, ''Untuk itu, perlu langkah nyata agar tak muncul kecenderungan dikotomis yang memecah belah.''

Banyak pihak yang salah pengertian terhadap istilah ''akomodasi'' itu. Pengertian yang salah tersebut ialah bahwa mengakomodasi pengarang sastra Jawa adalah semata-mata melibatkan mereka di dalam kepanitiaan, mengundangnya sebagai peserta, atau ditampilkan sebagai pemakalah dalam KBJ. Lagi-lagi, bahkan ada pula pengarang sastra Jawa yang masih memiliki pengertian yang salah seperti itu. Padahal, persoalan sesungguhnya terletak pada terakomodasinya aspirasi yang dalam sejarah pelaksanaan KBJ yang sudah empat kali itu belum pernah dibicarakan dari hati ke hati antara kubu-kubu yang dikesankan berseberangan tersebut.

Kalau toh para aktivis KSJ dianggap sebagai anak-anak nakal, mereka yang layak dipandang sebagai orang tua bijak pun belum pernah memanggil ''anak-anak nakal'' itu untuk dituturi atau dinasihati, atau bahkan kalau perlu dimarahi. Menjelang KBJ IV, Keliek Eswe sudah berusaha membangun dialog dan mencoba menawarkan beberapa hal yang diinginkan para aktivis KSJ. Di antaranya, bagaimana bisa diterbitkan buku-buku karya sastra (Jawa) untuk dijadikan bahan pendukung pembelajaran bahasa Jawa di sekolah-sekolah. Seorang kawan dari Jogjakarta secara mendadak dan terburu-buru datang ke Surabaya kala itu, bermaksud meramaikan dialog, tapi entah karena apa, gagal terlaksana.

Sampai digelarnya Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Pelestarian Sastra Daerah dan Bahasa Jawa Menyongsong KBJ V di Hotel Satelit, Surabaya pada 7-9 Oktober 2009, belum ada tanda-tanda akan terbangun dialog itu. Bahkan, saya dan beberapa kawan aktivis KSJ tidak mendapatkan undangan untuk menghadiri rapat tersebut, baik sebagai salah seorang penggagas KSJ maupun dalam kapasitas saya sebagai ketua Peguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS).

Ketika saya memprotes melalui SMS, seorang kawan mewakili panitia meminta saya menyusul, tetapi saya tidak bisa datang karena saat itu telanjur bergerak ke kota lain. Melalui SMS pula, beberapa saat kemudian ada kabar bahwa saya diangkat menjadi anggota Badan Pekerja KBJ V dan saya tidak menyanggupinya. Kesimpulan sementara saya saat itu, KBJ V masih didominasi pikiran yang keliru mengenai istilah ''akomodasi'' tersebut.

Tetapi, kemudian di dalam Kemah Budaya yang diselenggarakan Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro di kawasan wisata Dander pada 27-29 Oktober 2009, ada kabar dari Suparto Brata dan JFX Hoery bahwa pada saatnya nanti panitia KBJ V akan mengadakan dialog dengan berbagai pihak, termasuk dengan para pendukung KSJ.

Semoga saja dialog tersebut dapat terlaksana sehingga kalaulah masing-masing pihak tetap berbeda pendapat, setidaknya bisa saling memahami dan tidak harus berbenturan karena perbedaan itu. (*)

*) Bonari Nabonenar, salah seorang penggagas Kongres Sastra Jawa

Dikutip dari Jawa Pos
Selanjutnya.....

Sunday, 21 March 2010

Kongres Bahasa Jawa V

Pelaksanaan Kongres Bahasa Jawa (KBJ) V masih sekitar 1,5 tahun lagi: kira-kira pertengahan 2011 di Jawa Timur (Surabaya). Tetapi, bagi hajatan akbar lima tahunan itu waktu 1,5 tahun tak dapat dikatakan longgar, malahan boleh dibilang mepet. Sebab banyak hal yang harus disiapkan dengan matang: anggaran, program, kegiatan, persembahan, dll. Kalau KBJ V ingin lebih bergengsi dan membawa kemaslahatan masyarakat, Pemda Jatim selaku penyelenggara mesti banyak belajar dari pengalaman KBJ sebelumnya. Harus diakui KBJ sebelumnya masih banyak kekurangan. Karena itu, beberapa catatan berikut patut menjadi pertimbangan.


Pertama, perlu evaluasi kritis terhadap keputusan/rekomendasi KBJ yang lalu. Sudahkah poin-poin keputusan/rekomendasinya diakomodasi Pemda Jatim, Jateng, dan DIY? Sudahkah masyarakat merasakan manfaatnya? Kalau dilihat masa 4 tahun terakhir tampak bahwa sebagian besar keputusan/rekomendasi KBJ IV (2006) belum dapat direalisasikan. Di bidang pendidikan formal, misalnya, rekomendasi tentang muatan lokal wajib Bahasa Jawa di SLTA belum sepenuhnya ditindak-lanjuti. Juga rekomendasi pengadaan buku ajar bahasa Jawa. Bahkan sampai kini belum terdengar ada kegiatan seleksi buku ajar oleh tim penilai independen.

Hal serupa terjadi di bidang pendidikan informal, nonformal, dan kearifan lokal. Rekomendasi pengembangan sanggar, paguyuban, dan upaya peningkatan kegiatan lomba, sarasehan, pelatihan, dan kursus belum juga dilakukan serius dan berkelanjutan. Aktualisasi dan apresiasi aset budaya lokal sebagai wujud kearifan lokal juga belum tampak hasilnya. Yang sedikit kelihatan barulah di bidang pemberdayaan. Di DIY misalnya, dalam kerangka pemberdayaan bahasa Jawa, Gubernur dan Bupati/Walikota telah mengeluarkan instruksi pemakaian bahasa Jawa pada hari Sabtu di seluruh instansi Pemda. Instruktusi itu berlaku sejak Agustus 2009. Sementara rekomendasi lain seperti pembuatan laman (website) tentang bahasa, sastra, dan budaya Jawa malahan belum tersentuh. Kalau Melayu Online dapat digarap dengan baik, kenapa Jawa Online tidak?

Kedua, perlu ada semacam laporan pertanggungjawaban masing-masing Pemda (Jatim, Jateng, DIY) berkait tindak lanjut rekomendasi tersebut. Dinas Pendidikan selaku pemegang rekomendasi pendidikan formal perlu melaporkan hasilnya kepada sidang (kongres): bagaimana pelaksanaan muatan lokal wajib di sekolah, bagaimana realitas penyediaan guru bahasa Jawa, dan apa saja kendala pengadaan sarana, media, buku ajar, dan sejenisnya. Dinas Kebudayaan juga demikian. Selaku pelaksana rekomendasi pendidikan informal/nonformal perlu membuat laporan sejauh mana implementasinya di lapangan. Begitu juga lembaga-lembaga lain yang bertugas menindaklanjuti rekomendasi di bidang kearifan lokal dan pemberdayaan.

Dengan laporan semacam itu hasil evaluasi tentu akan segera diketahui: benarkah selama ini keputusan/rekomendasi kongres itu aplikatif? Kalau ternyata tidak aplikabel, perlu dilakukan rekonstruksi program, agenda, dan langkah-langkah kongres. Selain itu juga perlu kalkulasi matang yang berorientasi pada praktik lapangan beserta kemanfaatannya bagi masyarakat (rakyat). Dengan pertimbangan itu diharapkan tak akan lahir keputusan dan rekomendasi yang sama dari kongres ke kongres. Dan evaluasi itu sangat penting sebagai upaya mengurangi derasnya tuduhan bahwa KBJ hanya menghabiskan milyaran uang rakyat tapi tak membawa manfaat bagi rakyat.

Ketiga, perlu dibangun sikap akomodatif dan kebersamaan atas berbagai komponen/kepentingan. Sikap ini dibangun sebagai upaya menghindari timbulnya dikotomi seperti yang terjadi di Semarang dengan munculnya KSJ (Kongres Sastra Jawa). Di satu sisi KSJ memang dinilai positif. Tetapi pengalaman Semarang menunjukkan ada kesan KSJ diselenggarakan hanya untuk "tandingan" KBJ. Terlepas benar atau tidak, hal itu menjadi suatu keniscayaan karena saat itu mereka (para pengarang dan pencinta sastra Jawa) merasa "tidak diakomodasi" oleh KBJ. Untuk itu perlu langkah nyata agar tak muncul kecenderungan dikotomis yang memecah-belah.

Langkah nyata itu, misalnya, walau tidak secara aktif (fisik), mereka dapat dilibatkan secara mental (emosional) dan profesional. Wujudnya boleh apa saja, di antaranya dengan memberi peluang kompetitif bagi karya (sastra) mereka untuk dipersembahkan pada kongres. Hal ini tentu harus dilakukan sebelum kongres melalui ajang lomba/sayembara penulisan buku (guritan, cerkak, novel, drama). Kemudian karya para pemenang dicetak, diterbitkan, dan disebarluaskan ke seluruh peserta kongres. Dengan cara ini diyakini para sastrawan Jawa akan merasa terlibat secara emosional sehingga KBJ menjadi momen penting sekaligus menjadi "tujuan" untuk membuktikan profesionalisme kesastrawanan mereka.

Keempat, sebagai forum internasional KBJ V perlu mempersembahkan produk-produk unggulan. Produk unggulan ini berupa buku yang dapat langsung dimanfaatkan masyarakat (rakyat). Kalau selama ini KBJ hanya menyuguhi tas berisi setumpuk makalah dan sekeping CD, KBJ V mendatang perlu menyuguhi kamus, tata bahasa, ejaan, ensiklopedi, glosarium, dan sejenisnya, selain tentu saja buku-buku sastra terbaik (guritan, cerkak, novel, sandiwara) dari sastrawan setempat. Cara ini dinilai tepat sebagai bukti keseriusan Pemda dalam upaya membina, mengembangkan, dan melindungi bahasa daerah (Jawa) sebagaimana diamanatkan oleh pasal 42 UU No. 24 Tahun 2009.

Perlu diketahui selama ini lembaga kebahasaan yang ada di Jatim, Jateng, dan DIY telah menyusun buku praktis bahasa dan sastra Jawa: pedoman, kodifikasi, pembakuan, sejarah, dan lain-lain. Balai Bahasa Yogyakarta, misalnya, telah menyusun dan menerbitkan Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa) (2001), Tata Bahasa Jawa Mutakhir (2006), Ejaan Bahasa Jawa yang Disempurnakan (2006), Ikhtisar Perkembangan Sastra Jawa Modern (2001), Antologi Biografi Pengarang Sastra Jawa (2001), Glosarium Sastra Jawa (2007), Ensiklopedi Sastra Jawa (2010), dan masih banyak lagi.

Selain sebagai acuan/referensi, buku-buku itu dapat digunakan sebagai pedoman bagi peningkatan keterampilan berbahasa dan bersastra masyarakat, tidak terkecuali para guru dan siswa di sekolah. Betapa KBJ V di Surabaya akan menjadi forum bergensi yang tak terlupakan sepanjang sejarah jika bersedia mewujudkan sikap akomodatif terhadap kebutuhan rakyat dengan menyuguhkan produk unggulan berupa buku-buku tersebut.***

*) Tirto Suwondo, Kepala Balai Bahasa Jogjakarta

Diambil dari Jawa Pos
Selanjutnya.....

Saturday, 20 February 2010

Bahasa Ibu Interanational




Selanjutnya.....

Thursday, 18 February 2010

INSPIRASI MYRA KETIKA KETEMU SUPARTO BRATA

Oleh: Veronica Myra Wijaya

Kakekku meninggal dunia 5 bulan yang lalu. Kami sekeluarga sangat sedih karena kakek meninggal dengan tiba-tiba akibat serangan jantung dan karena faktor usia. Kakek meninggal tepat ketika saya sedang mengikuti Ujian Akhir Semester 4 di hari yang terakhir. Setelah ujian usai, kami sekeluarga langsung memutuskan untuk pulang ke Bali. Kami tidak sampai melihat saat-saat terakhir kakekku di dunia, karena ujianku saat itu belum selesai

Kakekku orang yang banyak berjasa di Singaraja. Ia termasuk 13 daftar orang penting di sana. Kakekku sudah pernah dimuat pada suatu majalah di Bali. Ketika kembali kuliah, aku berniat ingin membuat sebuah buku biografi untuk kakekku untuk mengenangnya. Ketika muncul tugas “Personal Branding” di semester 5, keinginan membuat buku biografi kakek kian menguat. Tapi sayang kakekku sudah tiada, sehingga aku tidak bisa mengangkatnya dalam tugasku. Yang di-branding harus seseorang yang masih hidup, agar bisa menginspirasi orang-orang yang membaca “Personal Branding” tugasku.

Sebelum liburan aku mengusahakan supaya aku sudah menemukan seorang tokoh yang menginspirasiku dan nantinya juga bisa menginspirasi orang-orang di sekitarku. Lalu setiap hari kubuka setiap situs di internet. Semula tentang olahraga, karena aku ingin mengangkat tema ini. Kemudian saya terus mencari dan membuka semua situs yang berhubungan dengan Kota Surabaya, karena saya memang berniat memilih tokoh di Surabaya agar nantinya saya bisa mengunjungi tokoh tersebut dan bisa mendapatkan banyak informasi dari beliau.

Sampai suatu ketika tanpa sengaja saya menemukan sebuah nama Suparto Brata. Saya mencoba mengetik namanya dalam google search wah ternyata wajahnya langsung terpampang di sana. Banyak sekali artikel yang membahas tentang bapak ini. Bapak ini juga mempunyai sebuah blog pribadi yang isinya berupa semua hasil karya tulisnya dan semua pengalaman serta komentar orang-orang terhadap bapak ini, maupun tentang buku-bukunya. Ya dia memang seorang sastrawan berbahasa Jawa dan Indonesia.

Ketika melihat semua datanya, dan ketika mengetikkan namanya dalam google tak pernah muncul wajah lain selain wajah bapak ini. Selain itu jumlah orang yang pernah membuka tentang Bapak Suparto Brata juga cukup sangat banyak. Dari situ saya mengambil kesimpulan bahwa Bapak ini adalah orang yang populer. Tetapi kenapa saya tidak mengenalnya bahkan dosen saya ataupun orang-orang di sekitar saya tidak ada dari kami yang mengenalnya, meskipun kami tinggal dalam satu kota. Dari situlah saya memutuskan untuk mempromosikan Bapak ini sebagai salah seorang tokoh yang dapat menginspirasi di dalam melestarikan kebudayaan Indonesia. Yaitu melestarikan budaya sastra Jawa di dalam banyak novel-novelnya dan beliau masih konsisten sampai saat ini. Karya-karyanya yang telah dihasilkan juga sudah sangat banyak. Artikel-artikel atau hasil tulisan tentang Bapak ini juga sudah sangat banyak yang diterbitkan di berbagai media dan majalah. Tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari luar negeri. Bagaimana tidak, beliau sudah memulai berkarya ketika masih remaja hingga kini sudah menjadi seorang kakek di keluarganya, masih juga berkarya. Dunia tulis-menulis ini seakan sudah menjadi bagian dari hidupnya yang tidak dapat terpisahkan sampai kapanpun.

Selain itu kenapa saya memilih Bapak Suparto Brata, ini adalah karena pada saat saya melihat blognya saya mendapatkan identitas pribadinya dan melihat bahwa Bapak ini tinggal di Jalan Rungkut Asri, perumahan YKP Rungkut Lor Surabaya. Ketika mengetahui alamatnya itu hatiku sangat senang karena walaupun jauh dari rumahku sekarang, saya cukup mengenal daerah itu, karena sewaktu kecil saya pernah tinggal bersama tante saya di Jalan Rungkut Permai B/8. Dan sekarang masih ada kakak sepupuku dan pamanku yang tinggal di sana, jadi setidaknya kakakku bisa mengantarkan saya ke rumah Bapak ini.

Ada alasan lain, mengapa saya mula-mula tertarik dengan tokoh ini. Yaitu beliau memasang alamat e-mail di blognya. Hal ini jarang dilakukan oleh orang lain. Beliau sudah memiliki blog itu saja saya sudah bersyukur dan bangga, karena seorang kakek kok masih bisa menggunakan teknologi yang modern dan berkembang saat ini. Ini sangat langka dan sangat mengagumkan. Ya karena ada alamat e-mailnya, saya berpikir jika saya tidak bisa mengunjunginya setidaknya saya bisa memulainya dengan mengirim e-mail kepadanya untuk menceritakan maksudku dan meminta persetujuan Bapak Suparto Brata untuk mau membantu tugasku ini.

Sayang hingga liburan Idul Fitriku habis, saya tak kunjung mendapat balasan. Saat itu saya takut Bapak ini tidak membuka e-mailnya atau memang tidak pernah dibuka. Wah kalau begini terus bagaimana saya bisa mendapatkan kepastiannya? Karena jika nanti sudah mepet dengan pengerjaan tugasku maka akan sulit untuk mencari tokoh baru lagi. Akhirnya saya putuskan pada hari Sabtu malam setelah kuliah saya mengunjungi rumahnya bersama kedua saudaraku.

Sampai di depan alamat rumahnya, saya ketok pintu pagarnya, tidak ada respon dari dalam. Saya pencet tombol yang ada di dekat pintu, tetapi tidak berbunyi. Justru lampu depan jalan rumahnya yang menyala. Agaknya tombol tadi untuk menyalakan lampu di jalan depan rumahnya. Saat itu saya sangat kecewa. Kunjungan saya tampaknya akan sia-sia. Apalagi lampu di dalam rumah tidak ada yang menyala. Dan tidak ada mobil di “kandang mobil” yang tersedia. Tampak seperti rumah kosong. Tapi tanpa putusasa saya goyang-goyangkan kunci pintu pagarnya, sambil memanggil-manggil apakah ada orang di rumah sana.

Sekitar mungkin 20 menit kemudian ada suara menyahut dari dalam rumah. Dan pintu pun terbuka. Dalam hatiku ada tanda kehidupan dan pengharapan baru. Saya sangat senang karena akhirnya mendapatkan respon dari dalam rumah. Padahal barusan sudah hendak saya tinggalkan karena saya berpikir mungkin keluarga ini masih mudik lebaran. Ketika pintu terbuka, keluarlah seorang kakek tua, namun masih terlihat sehat dan kuat. Lalu saya bertanya apakah ini rumah Pak Subrata. Saat itu saya sangat gugup. Saya tidak mempunyai catatan namanya. Saat itu, semua artikel dan data tentang Bapak ini tertinggal di rumah pamanku. Yang ada hanya alamat e-mail dan alamat rumah yang ada di handphoneku saja. Namun, untung saja Bapak ini mengatakan benar ini rumahnya. Beliau tanya, “Cari siapa?”. Lalu saya langsung mengatakan bahwa saya mencari Bapak yang banyak menulis novel sastra Jawa. Bapak ini langsung mengiyakan dan mencarikan kunci untuk membukakan pintu supaya saya bisa masuk. Ketika menunggu pintu dibukakan saya berpikir bahwa Bapak ini sudah tua tetapi masih lincah dan dari raut wajahnya terlihat sangat ramah. Bapak ini terlihat lebih muda dan tidak seperti kakek-kakek. Oleh sebab itu saya masih memanggilnya Bapak. Saya rasa itu pantas dengan segala kemampuannya yang masih seperti Bapak-Bapak zaman sekarang.

Setelah masuk, saya katakan bahwa saya kira tidak ada orang di rumah karena lampu ruangan dalam rumah mati semua, Bapak ini menjawab bahwa kebiasaannya kalau sudah gelap atau matahari tenggelam beliau selalu menonton televisi di kamarnya. Lalu saya bertanya lagi apa Bapak tinggal sendirian di rumah ini? Ternyata tidak. Beliau tinggal bersama keluarga anak perempuan satu-satunya. Anggota keluarga itu (anak perempuannya itu, mantu, cucunya 3 orang) menempati di lantai dua, maka lantai bawah sepi. Begitu keadaannya sehari-hari. Tapi baru saja hari kemarinnya (3 hari pasca-Hari Raya Idulfitri) rumah ini sangat ramai. Putera laki-lakinya yang berjumlah tiga orang yang bekerja di Jakarta, beserta isteri dan anak-anaknya, semua lengkap datang bersama di rumah ini. Mereka datang bersama tapi dengan kendaraan yang berbeda. Ada yang naik pesawat, ada yang naik mobil sendiri. Setelah 2 hari berlibur serta melebur dosa kepada Bapak ini, mereka pun pulang. Baru tadi pagi (sebelum saya datang) tamu-tamu dari Jakarta itu meninggalkan rumah ini, hingga sepi lagi. Ada yang langsung pulang naik pesawat, berangkatnya sore. Ada yang naik mobil sendiri berangkatnya pagi-pagi sekali. Ada yang sekeluarga melanjutkan berlibur ke Bali dengan pesawat, mobilnya ditinggal di situ (dikandangkan di dalam garasi, tidak terlihat dari pintu pagar). Ketika saya datang itu yang pergi ke Bali belum kembali (baru berangkat ke Bali pagi harinya tadi).

Itulah pertemuan pertama kami. Dari situ saya membicarakan asal saya, tugas dan keperluan saya datang menemui beliau. Dari semua itu saya menyimpulkan bahwa Bapak ini merespon positif niat saya dengan baik. Bahkan beliau langsung menunjukkan ruang kerjanya ya kamar tidurnya. Ketika saya pamit pulang, beliau menyempatkan memberi saya sebuah kaos yang bertulisan alamat blognya yang punggungnya ada gambar wajah beliau.

Sebelum pulang saya menanyakan tentang email saya, kenapa tidak ada balasan. Dalam pikiran saya mungkin karena kata-kata yang saya tulis cukup banyak, saya uraikan langsung apa kepentingan saya setelah menemukan alamat email Bapak Suparto Brata, saya dianggap tidak penting. Ternyata beliau memang selektip membaca email yang tertuju kepadanya. Kalau pengirimnya tidak dikenal dan subject-nya agak merupakan iklan, tidak dibaca, bahkan di-delete tanpa dibuka dulu beritanya. Mungkin nama saya dan persoalan yang saya tawarkan dalam subject juga dianggap iklan, maka di-delete sebelum dibuka beritanya. Beliau juga menolak diajak chating atau face-book. Menghindari keasyikan chating yang menyebabkan mengurangi keproduktifannya menulis. Beliau mengagendakan dirinya tiap hari harus menulis. Menulis apa saja, tapi pasti ada yang direncanakan untuk ditulis. Begitu banyak yang akan ditulis, sehingga memerlukan sekala prioritas, mana-mana yang perlu ditulis hari ini, dan besok, dan lusa, dan bulan depan, dan tahun depan. Tiada hari tanpa menulis dalam sisa usianya, ujar beliau. Oleh karena itu agenda berkarya tulisnya sudah bertumpuk terdaftar di angannya, tinggal menjadwal sekala prioritasnya, mana yang harus ditulisnya dahulu, mana yang berikutnya.

Saya juga disuruh menuliskan biodata saya di buku agenda beliau, dan saya diberi kartu namanya.

Ya sejak bertemu dengan Bapak ini saya jadi teringat kakek saya. Sikap dan logatnya dalam mencarikan sesuatu untuk saya sangat mirip seperti kakek saya ketika kakek mencarikan sebuah kamera analog untuk tugas fotografi tahun lalu. Kakek mencarikan semua kamera yang pernah ia punya. Ia bahkan memberikan semua kamera miliknya sewaktu muda dulu. Itu saat-saat terakhir saya bertemu kakek saya tahun lalu, yaitu ketika liburan Natal 2008 dan Tahun Baru 2009. Dan kamera yang saya gunakan dalam pelajaran fotografi kemarin adalah benda warisan terakhir kakek saya yang diberikan kepada saya dan hasil fotonya memang sangat memuaskan. Terima kasih Engkong.

Akhirnya saya dan Bapak Suparto Brata sepakat untuk bekerja sama dan kita akan saling membantu dalam setiap usaha kita masing-masing. Kami mulai merencanakan agenda kami melalui e-mail dan menyusun beberapa pertemuan untuk saling mengenal dan berbagi informasi serta data-data yang saya perlukan. Bapak ini selalu sabar dalam membantu saya dan tidak pernah merasa terganggu dengan setiap kedatangan saya, bahkan ia selalu menyambut kedatangan saya dengan senang hati termasuk keluarganya inilah yang memudahkan pekerjaan saya. Ini juga mungkin karena Bapak ini sudah sangat sering dikunjungi oleh banyak orang dari mana saja baik dari pelajar, wartawan atau bahkan dari penggemar buku-bukunya. Pada saat saya menulis ini Bapak sedang menemani tamu yang berasal dari Australia (Mr. Keith Foulcher) di Kampus Unair.

Banyak hal yang bisa saya dapat dari Bapak Suparto Brata seperti jiwa sosialnya yang tinggi, kecintaan dan konsistensinya yang tinggi dalam perjuangannya terhadap sejarah dan karya sastra terutama sastra Jawa, mampu mengubah daya pikir sosial ke arah yang lebih baik, mendapatkan pengakuan dari publik atas perjuangannya, ada wujud dan hasil karyanya yang banyak, serta mempunyai jaringan sosial yang tinggi dan seorang yang terus menyuarakan kepada generasi muda untuk terus mencintai sejarah dan kebudayaan Bangsa Indonesia.
Saya rasa pertemuan saya dengan Bapak Suparto Brata bukan suatu kebetulan dan saya juga berterima kasih atas anugrah dan kasih karunia Tuhan Yesus. Saya percaya Tuhan yang merencanakan semuanya ini, karena bagaimana mungkin begitu banyak kebetulan dan kesamaan pengalaman saya yang juga mirip dengan kisahnya. Terima kasih Tuhan yang telah membantu dan memampukan tugas saya ini.



Saya percaya pertemuan saya dengan Bapak Suparto Brata bukan suatu kebetulan dan saya juga berterima kasih atas anugerah dan kasih karunia Tuhan yang telah membantu saya dalam menemukan seorang tokoh Suparto Brata yang sangat menginspirasi bagi generasi muda dan telah memberikan yang terbaik. Thank’s GOD!



Selanjutnya.....

SUPARTO BRATA: Seorang Sejarawan

Oleh: R. Nugroho Bayu Aji
Alumnus Depatremen Ilmu Sejarah Unair
Kontributor buku Tempo Doeloe Selaloe Aktoeal
Pemerhati sejarah dan sastra

Oleh: R. Nugroho Bayu Aji (Alumnus Depatremen Ilmu Sejarah Unair, Kontributor buku Tempo Doeloe Selaloe Aktoeal, Pemerhati sejarah dan sastra)

Pada tanggal 12 Oktober sastrawan dari Surabaya, Suparto Brata mendapatkan penghargaan SEA (South East Asia) dari Kerajaan Thailand karena dedikasi dan integritasnya sebagai seorang sastrawan yang pruduktif berkarya. Suatu prestasi yang patut dibanggakan bagi sastrawan, mengingat penghargaan tulis-menulis ini bertaraf internasional. Kehadiran Suparto Brata dengan karya sastranya sangatlah fenomenal. Bukan hanya karya sastra murni yang dia hasilkan.

Ada beberapa informasi penuh makna sejarah bahkan rekonstruksi kehidupan sosial di Surabaya dalam karyanya. Artinya, karya sastra yang ditulis oleh Suparto Brata bisa dijadikan acuan untuk menjelaskan seperti apa sejarah kota Surabaya dari jaman kolonial Hindia-Belanda, masa-masa pendudukan Jepang serta awal kemerdekaan Indonesia.

Karya-karya tersebut antara lain Kremil, Saksi Mata, Mencari Sarang Angin. Dalam karyanya yang berjudul Kremil, dikisahkan bagaimana belitan permasalahan ekonomi kota Surabaya sehingga mengakibatkan penjualan gadis oleh tetangganya dalam dunia prostitusi. Dari Kremil inilah narasi terajut yang kemudian membekali keberadaan Dolly sebagai tempat prostitusi terbesar yang dimiliki oleh Surabaya.

Dalam novel Saksi Mata terlihat bagaimana situasi Surabaya ketika diduduki oleh Jepang (1944). Tokoh Kuntara (12 tahun) mengalami sebuah pergulatan batin-jiwa ketika mengetahui kebiasaan tentara Jepang untuk memiliki gadis pribumi (Bulik Rum) sebagai simpanan dan pemuas nafsu. Keluarga Bulik Rum, Wiradad (suami) dan ayahnya tidak kuasa mencegah keinginan Ichiro Nishizawa serta Okada untuk menikmati tubuh Bulik Rum.

Selain itu digambarkan pula setting kota Surabaya tahun 1944, yakni daerah Pacarkeling dengan suasana Hindia-Belanda karena banyak jalan-jalan yang masih menggunakan bahasa Belanda. Ada pula bungker-bungker sebagai perlindungan dari serangan udara akibat dampak dari PD II. Tidak lupa dalam karya tersebut disertai juga lagu-lagu propaganda Jepang dan juga lampiran peta.

Berkat karya Saksi Mata ini, Suparto Brata mendapat undangan khusus dalam Semiloka Kota dan Karya Sastra dalam Studi Sejarah atas permintaan Dr. Freek Colombijn dan Els Bogaerts dari NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie). Hal ini bukan tanpa alasan karena Saksi Mata termasuk karya sastra yang mencatat sejarah. Selain itu, Saksi Mata juga mengantarkan Suparto mendapat SEA Write Award dari Kerajaan Thailand (Jawa Pos, 15 Oktober 2007).

Tulisan-tulisan Suparto Brata berawal dari pengalaman yang pernah dia saksikan ataupun didengarnya dari orang lain, serta ditambah dengan pengetahuan dari buku-buku sastra dan sejarah. Pengalaman tersebut dia rasakan karena hidup dalam tiga jaman yakni kolonial Hindia-Belanda, Jepang dan Kemerdekaan. Pengalaman itu, kemudian mengilhaminya untuk menyelesaikan karyanya yang berjudul Mencari Sarang Angin.

Terdapat fakta dan data sejarah dalam karya Mencari Sarang Angin tersebut, yakni mulai dari sejarah pers di Surabaya 1936-1945, sejarah pertempuran 10 November 1945 sampai pemberontakan PKI Madiun 1948. Selain itu dipaparkan pula berbagai macam kebiasaan orang Surabaya antara lain: adu doro, minum tuak dan arak-arakan ketika hendak merayakan pernikahan.

Selain setting kota Surabaya, Suparto Brata juga memiliki karya monumental dalam trilogi novel Gadis Tangsi, Kerajaan Raminem, serta Mentari di Ufuk Timur Indonesia. Trilogi tersebut mengisahkan perjalanan hidup tokoh Tetti dan Raminem yang berlatar pada masa pendudukan Dai Nippon di Nusantara.

Karya Sastra dan Sejarah

Sebagian besar sejarawan mengatakan bahwa karya sastra merupakan “alat bantu” dari ilmu sejarah. Akan tetapi, tidak bisa kita pungkiri bahwa karya sastra mempunyai sumbang sih besar untuk sejarawan dan historiografi. Dari karya sastra bisa diambil pengetahuan dan informasi yang tak dimiliki oleh dokumen tertulis maupun arsip yang berperspektif pemerintah.

Dengan demikian, kita bisa menerobos ruang kosong yang tak dimiliki arsip maupun dokumen. Sehingga sebuah peristiwa sejarah semakin dinamis dengan pendekatan dari arus bawah masyarakat yang terpinggirkan oleh sejarah dan kekuasaan (history from bellow).

Lebih lanjut lagi, karya sastra baik novel dan yang lainnya menjadi lebih dari sekedar “alat bantu” karena bisa menjelaskan lebih detail dinamika yang terjadi dalam peristiwa sejarah. Artinya, karya sastra merupakan sahabat untuk berdialektika dalam sejarah dengan semangat zaman (zeit gheist) yang terkandung didalamnya.

Sejarawan Kuntowijoyo yang akrab dengan dunia karya sastra mengatakan bahwa sastra dan sejarah pada era sekarang sangat tipis sekali bedanya. Bahkan tidak sedikit pula karya sastra seperti novel memuat fakta-fakta dalam suatu peristiwa sejarah. Hal itu seakan-akan menunjukkan sastra dan sejarah mempunyai hubungan yang erat diantara keduanya.

Karya sastra merupakan simbol verbal dengan beberapa peranan antara lain, sebagai cara pemahaman (mode of comprehension), cara perhubungan (mode of cumunication), serta cara pencipta (mode of creation). Kajian karya sastra tertumpu pada realitas. Ketika realitas itu merupakan peristiwa sejarah, maka paling tidak ada tiga hal yang bisa dibahasakan dan diinformasikan melalui karya sastra.

Pertama, karya sastra dapat mencoba untuk menterjamahkan suatu peristiwa melalui bahasa imaginer yang bermaksud untuk menerangkan serta memahami peristiwa sejarah tersebut. Kedua, karya sastra dapat menjadikan penulisnya untuk mengeluarkan perasaan, fikiran dan tanggapan dalam peristiwa sejarah.

Ketiga, layaknya sebuah historiografi (karya sejarah), karya sastra dapat dijadikan sebagai sarana untuk merekonstruksi (membangun kembali) sebuah peristiwa sesuai dengan pendekatan, pengetahuan serta daya imaginasi dari seorang penulis (Kuntowijoyo, 1999: 127).
Dengan penghargaan SEA Write Award atas dedikasinya dalam tulis-menulis dari Kerajaan Thailand, tidaklah berlebihan apabila kita memberikan apresiasi kepada Suparto Brata untuk dijadikan sebagai sejarawan. Meskipun tidak mengenyam pendidikan formal sejarah ataupun berprofesi sebagai seorang sejarawan, karyanya banyak membantu dalam historiografi kota Surabaya.

Saat ini, Surabaya memang membutuhkan sejarawan-sastrawan (sejarawan-nyastra) yang bisa menyampaikan fakta sejarah kepada masyarakat awam. Kecenderungan gaya bahasa sastra dalam bentuk novel, roman, atau cerita akan lebih mudah untuk dipahami oleh masyarakat awam.

Beda halnya ketika peristiwa sejarah dibahasakan dengan tulisan akademis, bukanlah suatu perkara yang mudah untuk memahaminya. Bahkan seseorang yang sedang mempelajari sejarah (mahasiswa ilmu sejarah) serta sekelas akademisi pun terkadang sulit untuk memahami sejarah.
Akan lebih bijaksana apabila sejarawan lebih bisa membumikan sejarah kepada keseluruhan masyarakat. Sehingga perkataan sejarawan Taufik Abdullah bisa terealisasikan yakni sejarawan tidak boleh berada di menara gading karena sejarah tidak bersifat elitis. Sejarah harus berada di tengah-tengah masyarakatnya.

Bukankah itu yang kita inginkan agar kita tidak sampai amnesia sejarah karena sudah banyak sejarawan masa kini yang mempunyai hubungan intim dengan elit kekuasaan dan lupa dengan masyarakat.

Dikuti dari "Belajarsejarah.com"


Selanjutnya.....

PENGARANG ITU BERNAMA SUPARTO BRATA.

EDITORIAL:

Beberapa hari yang lalu saya memenuhi undangan J.F.X Hoery (penyair sastra Jawa) yang kini menetap di Padangan (Bojonegoro) untuk mengikuti acara Kemah Budaya Jawa 2009. Acara diselenggarakan selama 3 hari, tanggal 27 s/d 29 Oktober 2009 mengambil tempat di Taman Tata Wana, Dander, Bojonegoro

Kendati acara diselenggarakan di bawah kemah (yang kalau siang hari panasnya bukan main, dan kalau malam hari jenes dan dingin karena diguyur hujan yang cukup lebat), saya cukup senang mengikuti acara tersebut. Sebagimana yang sudah-sudah, acara diisi dengan sarasehan-sarasehan,. Hebohnya, panitia masih menjamu peserta kemah dengan beberapa pagelaran seni: cokekan, oklik, athiririt, wayang tobos dan wayang thengul. Spektakuler, memang.

Namun yang membuat saya terkesan, adalah pertemuan dengan beberapa sastrawan Jawa modern yang menurut saya masih menunjukkan semangat berjuang menegakkan panji-panji sastra Jawa di tengah serbuan budaya pop (audio visual) yang terus menerus menggerus budayaa baca tulis. Mereka bertemu, saling menyapa, berbincang membicarakan sastra Jawa (yang tetap berjalan di tempat). Ada yang mengeluh, putus asa dan akhirnya mencoba survival dengan beralih ke sastra Indonesia. Namun ruh mereka tetap. Mereka tetap pejuang sastra Jawa yang militan.

Salah seorang pejuang sastra Jawa itu adalah Suparto Brata. Sudah sepuh memang. Namun energi kepenulisannya tiada tara. Saya sudah cukup lama mengenal suparto Brata. beberapa kali berbincang deengan pengarang sepuh itu. Namun perbincangan paling mengesankan baru terjadi di Bojonegoro kali ini. saya benar-benar kagum dengan semangat beliau dalam menulis. Tiada hari tanpa menulis. Konon beliau menetapkan harus menulis sebanyak 8 halaman setiap hari. Kalau satu hari tidak dapat melakukan maka ia harus membayarnya di lain waktu.

Apa sih yang membuat Pak Parto demikian dahsyat nguri-uri semangat menulis, tanya saya. Menurut beliau, kalau orang mau disebut modern, maka ia harus mau meninggalkan tradisi omong dan jagongan. Itu tradisi kuno. Tradisi bangsa primitif. Bangsa modern sudah tidak membiasakan diri dengan budaya omong-omong dan jagongan. Bangsa modern harus membiasakan diri deengan budaya membaca dan menulis. Semua profesi membutuhkan tulisan. Seorang sarjana, mahasiswa, dosen, semua harus menulis untuk menunjukkan profesi mereka, katanya dengan senyum.

Sudah barang tentu saya tidak menyindir kawan-kawan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa. Mungkin kata-kata Suparto Brata itu betul. Kita memang ditakdirkan sebagai seorang dosen. Menjadi agak bermasalah kalau sebagai seorang dosen sudah tidak suka menulis atau tidak bisa menulis. Menjadi sangat bermasalah kalau seorang dosen hanya suka omong dan jagongan ke mana-mana. Sarasehan memang sebuah omong-omong dan jagongan, namun sarasehan merupakan sebuah iplementasi dari kebiasaan membaca dan menulis sebelumnya. Kalau waktu habis hanya dipakai untuk omong dan jagongan, kata-kata Suparto Brata mungkin benar. Kita adalah orang primitif. Orang yang tidak suka menulis, dan tidak bisa menulis.

Salam.

Wiranta.

Dikutip dari MAJALAH ILMIAH HALUAN SASTYRA BUDAYA no. 55 Th. XXVII Nopember 2009.
diterbitkan Fakultas Sastra dan Seni Rupa
Universitas Sebelas Maret.


Selanjutnya.....
 

Template by NdyTeeN